Selamat datang di FOKUS TPQ MUSUK BOYOLALI

Salah Kaprah Ramadhan

Selasa, 09 Juli 20130 komentar

Berapa banyak orang yang berpuasa (tapi) tak memperoleh apa-apa dari puasanya selain rasa lapar dan dahaga belaka”. (HR. Ibnu Majah & Nasa’i)

Marhaban Yaa Ramadhan. Kehadiran bulan Ramadhan tentu membuat kita merasa senang, gembira dan penuh harapan. Meski ada pula yang merasa biasa-biasa saja ketika Ramadhan datang. Bahkan ada sebagian orang yang merasa ‘jengkel’ ketika Ramadhan menghampiri.
Berikut ini beberapa salah kaprah yang sering terjadi pada kita yang harus kita hindari, agar puasa kita tahun ini, lebih sempurna, paripurna dan bermakna. 

1. Merasa sedih, malas, loyo dan tak bergairah menyambut bulan suci Ramadhan

kesalahan di bulan ramadhan, kesalahan umum di bulan puasaSering perasaan malas menyergap kita yang enggan menahan rasa payah dan penat selama berpuasa. Puasa sering dipahami dengan banyak istirahat, break dan aktifitas-aktifitas non-produktif lainnya, sehingga ini berefek pada produktivitas kerja yang cenderung menurun.
Padahal puasa mendidik kita untuk mampu lebih survive dan lebih memiliki daya tahan yang kuat. Sejarah mencatat bahwa kemenangan-kemenangan besar dalam futuhaat (pembebasan wilayah yang disertai dengan peperangan) yang dilancarkan oleh Rasululullah SAW dan para sahabat, terjadi di tengah bulan Ramadhan. Semoga ini menjadi motivator bagi kita semua, agar tidak bermental loyo & malas dan tidak berlindung di balik kata “Aku sedang puasa”. 

2. Berpuasa tapi enggan melaksanakan shalat fardhu lima waktu

Ini penyakit yang --diakui atau tidak-- menghinggapi sebagian umat Islam, mereka mengira bahwa Ramadhan cukup dijalani dengan puasa semata, tanpa mau repot mengiringinya dengan ibadah shalat fardhu. Padahal shalat dan puasa termasuk rangkaian kumulatif (rangkaian yang tak terpisah/satu paket) rukun Islam, sehingga konsekwensinya, bila salah satunya dilalaikan, maka akan berakibat gugurnya predikat “Muslim” dari dirinya.
Ada pula yang bersemangat dan sibuk beribadah sunnah selama Ramadhan tetapi setelah Ramadhan berlalu, shalat fardhu lima waktu masih tetap saja dilalaikan. Ini pun contoh dari orang yang tertipu dengan Ramadhan. Karena mereka hanya beribadah di bulan Ramadhan, itupun yang sunnah-sunnah saja, semisal shalat tarawih, dan setelah Ramadhan berlalu, berlalu pula ibadah shalat fardhunya. 

3. Berlebih-lebihan dan boros dalam menyiapkan dan menyantap hidangan berbuka serta sahur

Ini biasanya menimpa sebagian umat yang tak kunjung dewasa dalam menyikapi puasa Ramadhan, kendati telah berpuluh-puluh tahun melakoni bulan puasa tetapi tetap saja pemahaman tentang ibadah puasa tak kunjung berubah. Dalam benaknya, saat berbuka adalah saat “balas dendam” atas segala keterkekangan yang melilit mereka sepanjang + 12 jam sebelumnya, tingkah mereka tak ubahnya anak berusia 8-10 tahun yang baru belajar puasa. 

4. Berpuasa tapi juga melakukan ma’siat

Di bulan Ramadhan, setan-setan dibelenggu sehingga manusia tidak tergoda untuk melakukan penyimpangan dan kemaksiatan. Namun ada juga yang mempertanyakan kalau dibelenggu mengapa kemaksiatan masih ada di bulan Ramadhan?
Keterangan tentang dibelenggunya syetan di bulan Ramadhan, sebenarnya dari sebuah hadits dari Abu Hurairah ra. Sesungguhnya Rasulullah saw telah bersabda, “Apabila bulan Ramadhan datang, maka pintu-pintu surga akan dibukakan dan pintu-pitu neraka akan ditutup serta syetan-syetan akan dibelenggu.” (HR Bukhari dan Muslim).
Di antara faktor yang menyebabkan manusia terjerumus ke dalam perbuatan maksiat adalah godaan setan, godaan nafsu dan tabiat buruk manusia. 

5. Masih tidak merasa malu membuka aurat (khusus wanita muslimah)

Sebenarnya momen Ramadhan bila dijalani dengan segala kerendahan hati, akan mampu menyingkap hijab ketinggian hati dan kesombongan sehingga seorang Muslimah akan mampu menerima segala tuntunan dan tuntutan agama ini dengan hati yang lapang. Menutup aurat, misalnya, akan lebih mudah direalisasi ketimbang di bulan selain Ramadhan. Mari kita hindari sifat-sifat nifaq yang pada akhir-akhir ini sangat diumbar dan dianggap sah, Ramadhan serba tertutup, saat lepas Ramadhan, lepas pula jilbabnya, sebagaimana di televisi-televisi, inilah sebuah contoh pemahaman agama yang parsial (setengah-setengah), tidak utuh. 

6. Menghabiskan waktu siang hari puasa dengan tidur berlebihan

Barangkali ini adalah akibat dari pemahaman yang kurang tepat dari sebuah hadits yang berbunyi “Tidurnya orang yang berpuasa adalah ibadah” Memang selintas prilaku tidur di siang hari adalah sah dengan pedoman hadits diatas, namun tidur yang bagaimana yang dimaksud oleh hadits diatas? Tentu bukan sekedar tidur yang ditujukan untuk sekedar menghabiskan waktu, menunggu waktu ifthar (berbuka) atau sekedar bermalas-malasan, sehingga tak heran bila sebagian besar umat ini bermental loyo saat berpuasa Ramadhan.
Lebih tepat bila hadits diatas difahami dengan aktifitas tidur ditengah puasa yang berpahala ibadah adalah bila tidur proporsional tersebut akibat dari letih dan payahnya fisik kita setelah beraktifitas; mencari rezeki yang halal, beribadah secara khusyu’ dsb. 

7. Meninggalkan shalat tarwih tanpa udzur/halangan

Benar bahwa shalat tarawih adalah sunnah tetapi bila dikaji secara lebih seksama niscaya kita akan dapatkan bahwa berpuasa Ramadhan tanpa shalat tarawih adalah suatu hal yang disayangkan, mengingat amalan sunnah di bulan ini diganjar sama dengan amalan wajib. 

8. Merasa “BERPAHALA” saat menonton Televisi

Tanpa disadari, mungkin kita pernah bahkan sering merasa, bahwa nonton TV saja rasanya seperti ibadah, karena yang ditonton acara yang berbau Islam. Setiap kali memasuki bulan Ramadhan, acara-acara TV selalu dijejali dengan berbagai hiburan yang dikemas (sok) Islami. Sinetron islami, humor islami, kuis-kuis islami, musik-musik islami, dan berbagai acara lain yang semuanya selalu menyita waktu-waktu utama. Ketika sepertiga malam yang terakhir sebelum sahur, acara-acara tersebut telah merebut hati kaum muslimin sehingga ummat Islam meninggalkan ibadah sunnah, seperti Qiyamullail, tadarrus atau menghafal Al Qur’an, dan sebagainya. Bagaimana dengan kita…? 

9. Semakin jarang membaca Al Qur'an dan maknanya

10. Semakin jarang bershadaqah

11. Tidak termotivasi untuk banyak berbuat kebaikan

12. Tidak memiliki keinginan di hatinya untuk memburu malam Lailatul Qadar

Poin nomor 9, 10, 11 dan 12 secara umum, adalah indikasi-indikasi kecilnya ilmu, minat dan apresiasi yang dimiliki oleh seseorang terhadap bulan Ramadhan, karena semakin besar perhatian dan apresiasi seseorang kepada Ramadhan, maka sebesar itu pula ibadah yang dijalankannya selama Ramadhan. 

13. Biaya belanja & pengeluaran (konsumtif) selama bulan Ramadhan lebih besar & lebih tinggi daripada pengeluaran di luar bulan Ramadhan (kecuali bila biaya pengeluaran itu untuk shadaqah) 

14. Lebih sibuk memikirkan persiapan hari raya daripada amalan puasa

Terkadang kita lebih sibuk memikirkan apa yang dipakai di hari raya dibanding memikirkan apakah puasanya pada tahun ini diterima oleh Allah Ta’aala atau tidak. Lebih menyibukkan diri dengan belanja baju baru, camilan & masak-memasak untuk keperluan hari raya pada pekan terakhir bulan Ramadhan. Pada hari-hari puncak Ramadhan, malah menyibukkan diri dan keluarganya dengan belanja ini-itu, substansi puasa yang bermakna menahan diri tidak ada, justru membongkar jati diri yang sebenarnya, pribadi-pribadi “produk Ramadhan” yang konsumtif, memborong apa saja yang mampu dibeli, meski terkadang harus dengan berhutang.

Itulah beberapa kekurangan dan kesalahan yang masih sering kita anggap enteng. Semoga Allah menganugerahi kita dengan rahmat-Nya, sehingga mampu menghindari kesalahan-kesalahan yang kerap kali menghinggapi mayoritas umat ini, aamiin. Hanya dengan keikhlasan, perenungan dan napak tilas Rasul, insya Allah kita mampu menaikkan kualitas puasa kali ini.
Wallaahu a’lam bis shawaab


Sumber : hidayatullah.com dengan beberapa perubahan dan tambahan
Image : hutantropis.com
Share this article :

Posting Komentar

 
Copyright © 2013. FOKUS MUSUK BOYOLALI - All Rights Reserved
Proudly powered by Blogger Support : Cara Gampang | Johny Template