Keutamaan Sebagai Ustadz
Ustadz atau sering orang mengatakan Guru Ngaji dalam bahasa Arab memakai istilah “Al-Mu’allim, Al-Murobbi, Al-Mu’addib dan juga Al-Ustadz”. Tidak masalah orang mau memanggil dengan panggilan yang mana, yang terpenting tanggung jawab & pengajaran yang dilakukannya serta perannya dalam proses pendidikan. Karena keberhasilan aktivitas pendidikan banyak bergantung pada keberhasilan para Ustadznya dalam mengemban amanah sebagai guru.
Ustadz atau sering orang mengatakan Guru Ngaji dalam bahasa Arab memakai istilah “Al-Mu’allim, Al-Murobbi, Al-Mu’addib dan juga Al-Ustadz”. Tidak masalah orang mau memanggil dengan panggilan yang mana, yang terpenting tanggung jawab & pengajaran yang dilakukannya serta perannya dalam proses pendidikan. Karena keberhasilan aktivitas pendidikan banyak bergantung pada keberhasilan para Ustadznya dalam mengemban amanah sebagai guru.
Islam sangat menghormati & menghargai orang-orang yang mau bertugas sebagai pendidik atau Ustadz. Imam Ghozali dalam kitabnya “Ihya Ulumuddin” Juz 1 hal 52 menulis kedudukan seseorang yang berilmu dan mengajarkannya :
“Seseorang yang berilmu & kemudian bekerja dengan ilmunya, maka dialah yang dinamakan besar di bawah kolong langit ini. Dia ibarat matahari yang menyinari orang lain dan mencahayai pula dirinya sendiri.”
Untuk itu sangat rugi bagi seseorang yang memiliki ilmu tetapi tidak mau mengajarkan kepada orang lain. Dan sungguh beruntung bagi orang yang terjun menjadi Ustadz TKA-TPA, akan menjadi orang yang Al hayah Fil Maut (Hidup terus walau sudah mati) bukan Al Hayah Fil Hayah (Hidup selama masih hidup).
Beberapa hal yang harus dimiliki oleh seorang guru / ustadz agar menjadi Ustadz yang ideal.
1. Berjiwa Robbani
Maksud berjiwa Robbani di sini adalah bahwa seorang ustadz / guru, tujuan & tingkah lakunya serta pola pikirnya senantiasa berpijak dari Tuhan , oleh Tuhan, dan untuk Tuhan. Hal ini sesuai firman Allah SWT :
“Akan tetapi hendaklah kamu semua menjadi orang-orang Robbani, karena kamu selalu mengajarkan Al-Kitab dan disebabkan tetap mempelajarinya.” (Q. S Ali Imron : 79)
Tanpa jiwa Robbani ini seorang ustadz tidak akan bisa mengantarkan santrinya mencapai manusia yang dicita-citakan oleh pendidikan Islam yaitu menjadi pribadi muslim & menjadikan Allah sebagai puncak ketaatan.
1. Berjiwa Robbani
Maksud berjiwa Robbani di sini adalah bahwa seorang ustadz / guru, tujuan & tingkah lakunya serta pola pikirnya senantiasa berpijak dari Tuhan , oleh Tuhan, dan untuk Tuhan. Hal ini sesuai firman Allah SWT :
“Akan tetapi hendaklah kamu semua menjadi orang-orang Robbani, karena kamu selalu mengajarkan Al-Kitab dan disebabkan tetap mempelajarinya.” (Q. S Ali Imron : 79)
Tanpa jiwa Robbani ini seorang ustadz tidak akan bisa mengantarkan santrinya mencapai manusia yang dicita-citakan oleh pendidikan Islam yaitu menjadi pribadi muslim & menjadikan Allah sebagai puncak ketaatan.
2. Niat yang Benar & Ikhlas
Hendaknya setiap ustadz melandasi dirinya dalam mendidik dengan niat yang benar, ikhlas semata-mata untuk mencari ridlo Alloh, bukan mencari imbalan. Karena keikhlasanlah yang merupakan pangkal diterimanya amal seseorang. Alloh berfirman yang artinya :
“Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Alloh dengan ikhlas (mur ni semata-mata taat) kepada-Nya dalam menjalankan agama.” (Q. S Al Bayyinah : 5)
3. Tawadlu’ (Rendah Hati)
Setiap ustadz haruslah menghiasi diri dengan jiwa dan sikap tawadlu’. Betapapun tinggi ilmu yang telah dimiliki itu belum seberapa dengan yang dimiliki Alloh yang memiliki sifat Maha Berilmu. Kita hanyalah sepucuk kuku jika dibandingkan dengan Alloh yang Maha Tahu, maka janganlah kita sombong & merasa pandai. Teruslah belajar & belajar untuk memperbanyak lagi ilmu kita. Alloh berfirman :
“Dan di atas tiap-tiap orang yang berpengetahuan itu masih ada yang Maha Tahu.” (Q. S Yusuf : 76)
4. Khosyyah (Takut kepada Alloh)
Alloh memerintahkan kepada setiap mukmin untuk senantiasa takut kepada-Nya. Alloh juga berfirman :
“Dan janganlah kamu takut kepada sesama manusia, tetapi takutlah kepada-Ku.” (Q. S Al-Maidah : 44)
Realitas dari takut kepada Alloh ini buat para ustadz adalah senantiasa berusaha mengosongkan dirinya dari maksiat. Karena keberhasilan mendidik para santri juga ditentukan oleh kebersihan hati sang ustadz. Dengan kebersihan hati dan kemudian menghiasi diri (tahalli) dengan perbuatan-perbuatan terpuji, akan mempermudah memancarkan (tajalli) ilmunya Alloh.
Alloh memerintahkan kepada setiap mukmin untuk senantiasa takut kepada-Nya. Alloh juga berfirman :
“Dan janganlah kamu takut kepada sesama manusia, tetapi takutlah kepada-Ku.” (Q. S Al-Maidah : 44)
Realitas dari takut kepada Alloh ini buat para ustadz adalah senantiasa berusaha mengosongkan dirinya dari maksiat. Karena keberhasilan mendidik para santri juga ditentukan oleh kebersihan hati sang ustadz. Dengan kebersihan hati dan kemudian menghiasi diri (tahalli) dengan perbuatan-perbuatan terpuji, akan mempermudah memancarkan (tajalli) ilmunya Alloh.
5. Zuhud (Tidak Materialistis)
Seorang ustadz seharusnya tidak mengukur segala sesuatu dengan ukuran materi, hendaklah mengutamakan hidup sederhana, tidak tergiur dengan kemegahan dunia dalam hal apapun. Tetapi tidak berarti meninggalkan dunia dan hidup dalam kemiskinan, tapi maksud zuhud di sini adalah Zuhud hati. Artinya hati tidak terpaut dunia, mencukupkan apa yang direzkikan Alloh & ridlo atas karunia-Nya.
Seperti yang dikatakan oleh Muhammad Ahmad (1987 : 150)
“Bukanlah yang dimaksud zuhud itu meninggalkan dunia secara total & meninggalkan usaha dan bekerja, akan tetapi yang dimaksud adalah menemptkan dunia berada di tangan dan tidak di hati.”
Karena jika zuhud diartikan sebagai hidup dalam kemiskinan, berpakaian lusuh, awut-awutan & berpenampilan tidak pantas, justru akan diremehkan orang lain. Maka, bagi para ustadz hendaklah berpenampilan rapi, berpakaian pantas, bersikap sopan,wajar & tidak berlebihan agar dihormati dan tidak diremehkan orang.
6. Sabar & Tabah Hati
Tugas sebagai guru maupun ustadz bukan suatu tugas yang ringan tetapi berat & rumit, karena berhadapan dengan para santri yang memiliki watak & karakter yang berbeda, tingkat kecerdasan yang berbeda. Maka, ustadz dituntut untuk sabar & tabah hati, sesuai perintah Alloh SWT :
“Bersabarlah kamu, sesungguhnya Alloh bersama-sama orang yang sabar.” (Q. S Al Anfal : 46)
Dengan jiwa kesabaran yang tinggi maka tidak akan mudah futur / putus asa dalam menghadapi rintangan. Dia akan terus mencoba & mencoba untuk mencari solusi terhadap segala kesulitan, baik yang menyangkut sistem pengajaran & metode pembelajaran.
Wallahu’allam bishshowab. . .


Posting Komentar