Tentang
cinta....
Sewaktu
masih kecil,Husain (cucu Rasulullah Saw.) bertanya kepada ayahnya, Sayidina Ali
ra: “Apakah engkau mencintai Allah?” Ali ra menjawab, “Ya”. Lalu Husain bertanya lagi: “Apakah engkau
mencintai kakek dari Ibu?” Ali ra kembali menjawab, “Ya”. Husain bertanya lagi:
“Apakah engkau mencintai Ibuku?” lagi-lagi Ali menjawab, “Ya”. Husain kecil kembali
bertanya: “Apakah engkau mencintaiku?” Ali menjawab, “Ya”. Terakhir si Husain
yang masih polos itu bertanya, “Ayahku, bagaimanaengkau menyatukan begitu
banyak cinta di hatimu?” kemudian Sayidina Ali menjelaskan: “Anakku,
pertanyaanmu sungguh hebat ! Cintaku kepada kakek dari Ibumu (Nabi Saw.), Ibumu
(Fatimah ra) dan kepada kamu sendiri adalah karena cinta kepada Allah”. Karena
sesungguhnya semua cinta itu adalah cabang-cabang cinta kepada Allah
Swt.Setelah mendengar jawaban ayahnya itu Husain tersenyum mengerti.
“..adapun orang-orang yang beriman sangat cinta kepada
Allah.”
(QS. Al Baqarah (2) : 6)
Cinta,
kemana berlabuh....
Sudah
selayaknya seorang Mukmin menempatkan rasa cintanya dengan cara yang benar
dengan tidak memalingkannya kepada selain Allah sebagai bukti atas keimanan
mereka.
“Dan diantara manusia ada orang-orang yang menyembah
tandingan-tandingan selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka
mencintai Allah. Adapun orang-orang yang
beriman sangat cinta kepada Allah.”
(QS. Al Baqarah (2): 165) Maknanya, orang-orang beriman itu lebih besar
kecintaannya kepada Allah dibandingkan kecintaan orang-orang musyrik kepada
tuhan-tuhan tandingan selain Allah.
“Katakanlah, “Jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara,
isteri-isteri, kaum keluarga, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan
yang kamu khawatiri kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu
sukai, adalah lebih kamu cintai daripada Allah dan RasulNya, maka tunggulah
sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya. Dan Allah tidak memberi petunjuk
kepada orang-orang fasik.” (QS.
At Taubah (9): 24)
Menimbang
rasa....
Ketulusanmu untuk-Nya
Ketika
seorang mukmin cinta akan Rabb-Nya maka kecintaannya kepada Allah tidak boleh
mengharapkan pahala atau untuk menghindarkan siksa, tetapi semata-mata berusaha
melaksanakan kehendak-Nya, dan melaksanakan apa yang bisa menyenangkan-Nya
sehingga Ia kita agungkan. Tentang hal ini,
Rabi’ah al ‘Adawiyah bertutur dalam bait doanya, “Oh Tuhan, jika aku menyembah-Mu karena takut akan api neraka maka
bakarlah aku di dalamnya. Dan jika aku menyembah-Mu karena berharap surga, maka
campakkanlah aku darinya; tapi, jika aku menyembah-Mu karena Engkau semata,
maka janganlah Engkau sembunyikan keindahan-Mu yang abadi.” Ali bin Abi
Thalib pernah berkata, “Ada hamba yang
beribadah karena ingin mendapatkan imbalan, itu ibadahnya kaum pedagang. Ada
hamba yang beribadah karena takut siksaan, itu ibadahnya para budak. Dan ada sekelompok hamba yang beribadah
karena cinta kepada Allah Swt., itulah ibadahnya orang mukmin.” Seorang
pecinta akan berhias wangi dan rapi dalam shalatnya melebihi saat pertemuan
dengan orang yang paling ia sukai sekalipun.
Kedekatanmu bersama-Nya
Cinta
kepada Alah menjadikan seorang mukmin selalu ingin dekat dengan kekasihnya
(Allah Swt.), ingin berlama-lama munajat di hadapan-Nya. “Lambung mereka jauh dari
tempat tidurnya, sedang mereka berdoa kepada Tuhannya dengan rasa takut dan
harap...” (QS. As Sajdah (32) : 16).
Dilanda rindu
Satu tanda cinta hamba pada
Tuhan-Nya adalah kerinduan yang sangat untuk segera bertemu. Ketika waktu shalat telah tiba, ia bersegera
menunaikannya tanpa menundanya, karena itulah saat pertemuan dengan Tuhan-Nya.
“Barangsiapa yang merindukan bertemu dengan Allah, maka Allahpun
merindukan bertemu dengannya. (HR.
Ahmad, Tirmidzi, Nasa’i) Maka, adakah engkau rindu pada-Nya....
Ketaatanmu pada-Nya
“Sesungguhnya jawaban orang-orang mukmin bila mereka diseru
kepada Allah dan Rasul-Nya agar Rasul menghukum (mengadili) diantara mereka,
ialah ucapan,”Kami mendengar dan kami
taat. Dan mereka itulah orang-orang
yang beruntung.” (QS. An Nur (24) : 51)
“Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak
perempuanmu dan isteri-isteri orang mukminhendaklah mereka mengulurkan
jilbabnya ke seluruh tubuh mereka. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah
untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah Maha Pengampun lagi
Maha Penyayang.” (QS. Al Ahzab (33) : 59) Ketika
ayat tentang kewajiban berjilbab ini turun, maka para wanita mukminah kala itu
bersegera mengenakannya dengan kain seadanya tanpa banyak alasan dan
pertimbangan.
Pengorbanan yang niscaya
Cinta
memang identik dengan pengorbanan, bahkan hingga jiwa dan raga sekalipun. Hal
ini sudah dibuktikan Nabi Muhammad Saw. ketika ditawari kedudukan yang mulia
atau isteri yang cantik rupawan agar mau berhenti berdakwah. Maka dengan
kobaran cinta yang menyala pada Allah Swt., Rasulullah Saw. mengatakan kepada
pamannya,”Wahai Paman, seandainya
matahari mereka letakkan di tangan kananku dan rembulan di tangan kiriku agar
aku meninggalkan dakwah ini maka aku tidak akan meninggalkannya hingga Allah
memenangkanku atau aku binasa karenanya.”
“Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku,
niscaya aku ingat (pula) kepadamu.” (S. Al Baqarah (2) : 152)
“Dan ingatlah Allah sebanyak-banyakamu agar kamu beruntung.” (QS.
Jumu”ah (62) : 10)
Surat cintanya
“Sesungguhnya orang-orang beriman itu mereka
yang apabila disebut nama Alah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan
ayat-ayat-Nya bertambahlah iman mereka (karenanya) dan kepada Tuhan-lah mereka
bertawakal, (yaitu) orang-orang yang mendirikan shalat dan menafkahkan sebagian
rezeki yang Kami beriakan kepada mereka.” (QS. Al Anfal (8) : 23)
Al
Qur’an adalah kalamullah, ia adalah surat cinta Allah untukmu, ia penunjuk
jalanmu, pembeda yang haq dan batil, obat penawar, dan pelipur lara. Maka, iqra”...bacalah,
pahami, dan kerjakan apa yang dikandungnya. Engkau akan dapati, cintamu
pada-Nya semakin indah. Wallahua’lam
bisshawab


Posting Komentar